Tuesday, August 17, 2004

Jalan-jalan..

Kadang ingatan itu muncul saat kondisiku tercebur jatuh diluas samudera kehampaan bersama bayang kabut kesedihan, dan ia tak datang saat kondisi ku senang berteman keindahan kenikmatan satu malam.
Aku tak ingin punya sayap dan terbang menggapai mimpiku, aku ingin menginjak bumi dan menghirup sejuk udara di kehijauan tanaman, sebelum udara dijual dalam kemasan.

Ditinggi beton yang menjulang kemewahan dan aspal hitam jalan yang meleleh diterpa mentari siang bersama debu dan asap kerendahan, langkahku gontai ditrotoar ketika rasa lelah memangsaku dalam pencarian lalu terhenti diperempatan lampu merah kesibukan memandang keceriaan anak-anak muda dalam mobil keluaran tahun sekarang yang terlihat tertawa ceria sambil cekikikan.
Kulit mereka putih bersih, pakaian mereka bagus-bagus. Sesaat anganku mencoba duduk dikursi empuk jok mobil keluaran tahun sekarang sambil bermain handphone keluaran terbaru dan mungkin seorang wanita cantik disampingku, tapi itu hanya angan yang kemudian hilang diterpa laju deru keras biskota yang sesak mengangkut penumpang.

Satu, dua, tiga hitungan langkah kakiku sambil menghitung satu, dua, tiga hari atau berapa lama lagi Tuhan akan memanggil malaikat sucinya untuk menjemputku sebelum angan yang terhempas kembali datang dalam rasa syukur, penderitaan dan keabadian.
Seperti perjalanan Raja dari Nazareth yang menyerahkan darahnya pada segelas anggur dan dagingnya pada sepotong roti. “Inilah TubuhKu yang di-serahkan bagi kamu” sebagai kilau cahaya rasa syukur, dan makna penderitaan Karl Marx yang menukar buah pikir pengetahuan dengan kematian ketika rasa lapar merenggut nyawa istri anak-anaknya dikemiskinan. Atau sepenggal aroma maut "Berapakah jarak antara hidup dan mati, sayangku?Barangkali hilir-mudik di suatu titiktumpang-tindih merintih dalam satu nadi, sayangku:Sampai tetes-embun pun selesai, tak menitik!". Hamid Jabbar terbang dalam pejaman mata keabadian saat sajaknya mengudara dikematian atas panggung.

Itu semua sebuah perjalanan, dan aku pun masih berjalan diatas trotoar ini, trotoar yang menjadi batas pemisah sambil menghitung kembali lanjutan satu, dua, tiga, menuju empat, lima, enam dan seterusnya menuju kenyataan kehidupan....

2.40, Ketika kebohongan menjadi candu.

No comments: