merajut..
Gurat jingga dimusim penghujan saat pertemuan jamuan makan siang yang asik berbicara keinginan untuk berbagi, gurat jingga dipikiran masa depan, saat harapan perlahan terhapus dan akhirnya hilang..
Gurat jingga yang ingin naik menuju atap jenuhnya mimpi, agar dapat melihat dari ketinggian apa yang terjadi disekelilingnya.
Gurat jingga dikesedihan kejadian yang dialami ketika mereka melihat dengan sebelah mata, tapi sejujurnya mereka tidak merasakan.
Gurat jingga ditermenungnya terawang hidup yang kian singkat saat mereka berbicara dengan bisik-bisik akan nilai kecemburuan, sejatinya mereka bukan pelakon yang memainkan.
Sampai akhirnya mereka menutup pintu bijaknya dan berdiri diundakan mencoba menghalangi jalan menuju atap, dan gurat jingga dengan kepala tertunduk berdiri sendiri didasar. Didingin lantai panjangnya hidup yang menusuk.
Gurat jingga menangis dipelukan kasih.. gurat jingga yang menyimpan sendiri wewangian parfum dalam balutan kulit pencarian langkah selanjutnya..
Gurat jingga, gurat jingga.. separuh rangkaian rajutan hati yang ingin diberikan..
9.56, kapan lagi waktu untuk menangis itu datang kembali??
No comments:
Post a Comment