Wednesday, February 16, 2005

Jangan kau tunggu...

Kata malam di becek tanah kampung ketika diguyur hujan deras.
Banjir melanda memaksa masuk merusak pintu-pintu kebebasan diair bah tanah bumi kian gundul terusir globalisasi real estate atau apartement.
Kuning padi di ilalang yang merunduk digerogoti hama wereng menjadi karung beras tangis petani di timbangan tengkulak.
Hitam benak pengangguran sepanjang nasib yang mengutuk lahir beranak pinak kriminalitas tengah malam dan terali besi sel pun seperti kayu rapuh.
Pabrik-pabrik dijulang cerobong polusi ketertindasan upah rendah digerus gerigi berputar mencetak pucat pasi wajah-wajah gadis muda menggantung harapan mimpi pinggir jalan.
Kaleng susu cap nomor satu laku keras layaknya tanda tangan selebritis ditelevisi sore hari.

Muak menjadi marah menggeram tangis gelandangan meringkuk dipojokan terusir tak punya identitas masuk penampungan.
Barisan kian panjang menggelepar desah pura-pura pelacur diranjang kenikmatan ada uang abang kusayang.

Disini suara-suara itu kian lantang kudengar ketika sebuah karya kawan widji thukul menjadi ingatan.
Satu mimpi, satu barisan bersama sebuah catatan...

11.15, Pulanglah...

No comments: