Back Market...
Kaki hitam diapit sandal jepit...
Dibelakang pasar ada Bejo yang tak punya rumah, tidurnya diwarung-warung penjual sayur mayur atau buah-buahan.
Dibelakang pasar ada Otong yang pengganguran, menggantungkan impian pada angka-angka judi adu harap seribu jadi limaratus ribu.
Dibelakang pasar ada Ragil yang suka main perempuan, seringkali bertengkar dengan istrinya bilamana pulang tak bawa uang.
Dibelakang pasar ada Rahman yang bekas preman, namun sekarang telah menjadi guru mengaji, yang sabar dalam menasehati para pemuda-pemuda yang keranjingan akan ganja atau minuman cap anggur orang tua.
Dibelakang pasar dikisah yang kuat jadi pujian, atau hinaan lemah menjadi dendam.
Sekat dinding triplek, yang sesekali terdengar desah ingin hidup lebih baik.
Urbanisasi dipinggir kali, deras nasib dialur yang pasang surut.
Tak perduli walau banjir melanda...
Dibelakang pasar dugem katanya, ketika anak-anak tak punya tanah lapang haus akan hiburan, ketika kebebasan menggelayuti, anak-anak berumur 9 tahun sudah pandai merokok serta bermain judi.
Para orangtua yang mulai tak perduli lagi, karena kesibukan mencari uang dari pagi buta sampai malam hari, membuang hidup pas-pasan dikeranjang sampah keinginan punya ini dan itu.
Dibelakang pasar potret hidup derita rasa kebahagiaan...
Dibelakang pasar saat sore hari ditaman bermain bongkaran puing-puing, nyanyi lantang anak-anak umur belasan mengalun bersama tangan-tangan dekil mencabik gitar bersticker "Hidup segan, matipun enggan".
Belakang pasar, Kaki hitam diapit sandal jepit...
13.04, ngantuk gitu lho. katanya....:(
No comments:
Post a Comment